• Koordinator SPPG Ujungpangkah bergerak cepat menindaklanjuti kendala terkait menu, jadwal distribusi, dan kuota. Kini, kader TPK dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal kepada penerima manfaat MBG 3B.
  • Melalui kegiatan bersama PKM Sekapuk, hasil penimbangan tidak hanya dicatat, tetapi juga ditindaklanjuti dengan edukasi dan tindakan nyata untuk mencegah stunting serta menjaga tumbuh kembang anak tetap optimal.
  • Keluarga adalah sekolah pertama bagi anak dan remaja untuk belajar nilai, karakter, dan tanggung jawab. Melalui kolaborasi Pattiro Gresik dan Penyuluh KB Ujungpangkah, mari bersama wujudkan keluarga tanpa kekerasan dan remaja yang tumbuh dengan keteladanan.
  • Dalam pertemuan lokakarya mini puskesmas ujungpangkah, penyuluh kb menyampaikan beberapa hal salah satunya adalah sasaran MBG tidak hanya untuk anak sekolah tetapi juga mencangkup 3B yaitu ibu hamil, ibu menyusui dan anak baduta.
  • Orang Tua adalah pelindung pertama yang mengenalkan kasih sayang, kelembutan, dan rasa aman. Mulai dari rumah, kita ciptakan lingkungan tanpa kekerasan agar anak tumbuh percaya diri dan ceria.

Sosialisasi GATI di Kompak Tenan Komunitas Perangkat Desa Gosari


Gosari, Ujungpangkah – 2026.

Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) kembali hadir melalui kegiatan Kompak Tenan Komunitas Perangkat Desa Gosari dengan mengusung tema “Ayah Teladan, Desa Berdaya”. Kegiatan ini bertujuan memperkuat peran ayah dalam membangun ketahanan keluarga, sekaligus mendorong perangkat desa dan kepala desa untuk menjadi penggerak utama dalam mendukung program GATI di lingkungannya.

Dalam pernyataannya, Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Ujungpangkah, Dian Koesnani, AMd. Keb, menegaskan pentingnya peran ayah sebagai fondasi keluarga:

“Ayah adalah teladan yang membentuk karakter anak dan ketahanan keluarga. Melalui GATI, kita ingin menumbuhkan kesadaran bahwa ayah memiliki peran besar dalam menciptakan keluarga yang kuat. Dengan dukungan perangkat desa, Desa Gosari dapat menjadi contoh nyata bagaimana kolaborasi masyarakat dan pemerintah desa melahirkan generasi yang sehat dan berdaya.”

"Kami di Desa Gosari menyambut baik program GATI dengan tema Ayah Teladan, Desa Berdaya. Peran ayah sangat penting dalam membangun ketahanan keluarga, karena keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat desa yang berdaya. Melalui kegiatan Kompaktenan ini, kami berharap perangkat desa bersama seluruh masyarakat dapat mendukung penuh gerakan ini, sehingga Desa Gosari menjadi contoh bagaimana kolaborasi ayah, keluarga, dan pemerintah desa mampu menciptakan generasi yang sehat, mandiri, dan sejahtera.” Ucap Kepala Desa Bapak Fathul Ulum.

Kegiatan sosialisasi ini diharapkan mampu meningkatkan pemahaman perangkat desa tentang pentingnya keterlibatan ayah dalam keluarga. Dengan sinergi antara masyarakat dan pemerintah desa, GATI di Gosari diharapkan menjadi langkah nyata menuju desa yang lebih maju, harmonis, dan sejahtera.

Rapat Kerja TP PKK Kecamatan Ujungpangkah Tahun 2026


Ujungpangkah, 15 April 2026, Tim Penggerak PKK Kecamatan Ujungpangkah menggelar kegiatan Rapat Kerja (Raker) bersama TP PKK Desa se-Kecamatan Ujungpangkah yang bertempat di Gedung GNI. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pengurus PKK kecamatan dan desa, serta menjadi momentum penting dalam menyatukan langkah dan arah kebijakan Gerakan PKK ke depan.

Rapat kerja ini dipimpin langsung oleh Ketua TP PKK Kecamatan Ujungpangkah, Ny. Roufah Hadi, S.Ag, yang dalam penyampaiannya menekankan pentingnya peran keluarga sebagai pusat pembangunan. Hal ini sejalan dengan visi Gerakan PKK Tahun 2025–2029, yaitu “Terwujudnya Keluarga Berdaya dan Sejahtera untuk Mendukung Indonesia Emas 2045.”

Dalam materi yang disampaikan, dijelaskan bahwa Gerakan PKK memiliki landasan hukum yang kuat, antara lain Peraturan Presiden Nomor 99 Tahun 2017 tentang Gerakan Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga serta Permendagri Nomor 36 Tahun 2020 sebagai pedoman pelaksanaannya. Hal ini menjadi dasar dalam menjalankan program-program PKK secara terarah, terukur, dan berkelanjutan.

Adapun fokus utama dalam Raker ini mencakup:

  • Penguatan nilai Pancasila, gotong royong, dan kehidupan demokratis dalam keluarga
  • Peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, dan ekonomi keluarga
  • Penguatan ketahanan pangan dan pemanfaatan potensi lokal
  • Peningkatan derajat kesehatan keluarga melalui perilaku hidup bersih dan sehat
  • Penguatan kelembagaan PKK berbasis teknologi informasi

Selain itu, dibahas pula 10 Program Pokok PKK sebagai pilar utama dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan, mulai dari penghayatan Pancasila, gotong royong, pangan, sandang, kesehatan, hingga perencanaan sehat keluarga.

Dalam forum tersebut juga diangkat sejumlah isu strategis, seperti belum optimalnya integrasi program PKK dengan perencanaan pembangunan desa, kurangnya regenerasi kader, serta perlunya penguatan kemitraan lintas sektor. Oleh karena itu, strategi ke depan diarahkan pada tiga pilar utama, yaitu:

  1. Penguatan keluarga sebagai subjek pembangunan
  2. Peningkatan kapasitas kader dan kelembagaan PKK
  3. Peningkatan kualitas program serta kemitraan

Ibu Ketua TP PKK Kecamatan Ujungpangkah Ny. Roufah Hadi, S.Ag, dalam pernyataannya menyampaikan: "Melalui Rapat Kerja ini, kami berharap seluruh kader PKK dapat semakin solid dan memiliki arah yang jelas dalam menjalankan program. PKK bukan hanya organisasi, tetapi gerakan yang menyentuh langsung kehidupan keluarga. Jika keluarga kuat, maka masyarakat juga akan kuat. Kami juga mendorong inovasi dan pemanfaatan teknologi agar program PKK lebih efektif dan tepat sasaran." 

Lebih lanjut, beliau juga menekankan pentingnya kolaborasi antara PKK dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, organisasi masyarakat, maupun sektor lainnya, guna memperluas dampak program kepada masyarakat.

Kegiatan ini diakhiri dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk melaksanakan program kerja secara sinergis, inovatif, dan berkelanjutan demi mewujudkan keluarga yang sehat, mandiri, dan sejahtera di wilayah Kecamatan Ujungpangkah.

Pelayanan KB Metode MOW di Ujungpangkah Capai 193 Akseptor, Perlu Peningkatan Edukasi dan Akses

 

Pelayanan Keluarga Berencana (KB) di Kecamatan Ujungpangkah terus menunjukkan perkembangan, termasuk dalam penggunaan Metode Kontrasepsi Mantap (MOW) atau tubektomi. Berdasarkan data terbaru, tercatat sebanyak 193 akseptor telah memilih metode MOW dari total 5.249 peserta KB aktif.

Meski demikian, angka tersebut masih tergolong rendah dibandingkan metode kontrasepsi lainnya, seperti suntik dan pil. Hal ini menunjukkan bahwa masih diperlukan upaya peningkatan pemahaman masyarakat terkait manfaat dan keamanan metode kontrasepsi jangka panjang, khususnya MOW.

Sebaran akseptor MOW menunjukkan variasi antar desa. Desa Pangkahwetan dan Pangkahkulon menjadi wilayah dengan jumlah akseptor tertinggi, sementara beberapa desa lainnya masih mencatat angka yang sangat rendah bahkan nol.

Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Ujungpangkah menyampaikan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan capaian tersebut melalui edukasi dan pendekatan kepada masyarakat.

“Pelayanan MOW merupakan salah satu metode kontrasepsi yang efektif dan jangka panjang. Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami secara utuh manfaatnya. Oleh karena itu, kami akan terus mengintensifkan sosialisasi, konseling, serta meningkatkan akses pelayanan, termasuk melalui kerja sama dengan fasilitas kesehatan,” ujar Dian Koesnani, A.Md.Keb. selaku Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Ujungpangkah.

Lebih lanjut, pihaknya juga menekankan pentingnya peran kader dan tenaga kesehatan dalam memberikan edukasi yang tepat kepada pasangan usia subur, sehingga mereka dapat memilih metode kontrasepsi sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing.

Dengan sinergi antara penyuluh KB, tenaga kesehatan, dan masyarakat, diharapkan penggunaan metode kontrasepsi jangka panjang seperti MOW dapat meningkat, sehingga mendukung terwujudnya keluarga berkualitas dan sejahtera di Kecamatan Ujungpangkah.

Cerdas Membaca Status Gizi Anak “Dari Penimbangan ke Tindakan”: Kolaborasi Lini Lapangan Bersama Puskesmas Sekapuk


Ujungpangkah — Upaya pencegahan stunting dan peningkatan kualitas tumbuh kembang anak terus diperkuat melalui kegiatan lini lapangan bertajuk “Cerdas Membaca Status Gizi Anak: Dari Penimbangan ke Tindakan” yang dilaksanakan bersama Puskesmas Sekapuk.

Kegiatan ini melibatkan Penyuluh Keluarga Berencana (KB), kader, serta tenaga kesehatan dengan fokus pada peningkatan pemahaman masyarakat dalam membaca dan menindaklanjuti hasil penimbangan status gizi anak. Tidak hanya sebatas pencatatan, hasil penimbangan dijadikan dasar untuk langkah intervensi yang tepat.

Melalui kegiatan bersama Puskesmas Sekapuk ini, hasil penimbangan tidak hanya dicatat, tetapi juga langsung ditindaklanjuti dengan edukasi kepada orang tua serta tindakan nyata guna mencegah stunting dan menjaga tumbuh kembang anak tetap optimal.

Koordinator Penyuluh KB Kecamatan dalam keterangannya menegaskan pentingnya tindak lanjut dari setiap data yang diperoleh di lapangan.
“Data penimbangan tidak boleh berhenti di angka. Justru dari situlah kita mulai bergerak, memberikan edukasi, pendampingan, dan intervensi yang tepat agar anak-anak kita tumbuh sehat dan terhindar dari stunting,” ujar Dian Koesnani, AMd.Keb

Sementara itu, narasumber dari Pj. Gizi Puskesmas Sekapuk Rifqoh Qurrota A'yun, A.Md.Gz, menyampaikan bahwa pemahaman masyarakat tentang status gizi harus diiringi dengan aksi nyata.
“Orang tua perlu memahami arti dari hasil penimbangan, apakah anak berada pada kondisi normal, berisiko, atau membutuhkan perhatian khusus. Dari situ, kami bersama tim akan memberikan edukasi pola makan, perbaikan asupan gizi, serta pemantauan berkelanjutan agar tumbuh kembang anak tetap optimal,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara lini lapangan dan tenaga kesehatan mampu menghadirkan layanan yang lebih responsif dan berdampak langsung bagi masyarakat.

Dengan semangat “Dari Penimbangan ke Tindakan”, diharapkan setiap data yang diperoleh dapat menjadi dasar aksi nyata dalam menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan bebas stunting.

Optimalisasi program MBG 3B untuk Peningkatan Kesehatan (Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Baduta Non-Paud) bersama Koordinator SPPG dan kepala SPPG Pangkahwetan 1 Kecamatan Ujungpangkah


Ujungpangkah — Upaya peningkatan kesehatan masyarakat terus diperkuat melalui kegiatan Optimalisasi Program MBG 3B (Makan Bergizi Gratis) yang menyasar kelompok prioritas, yaitu Ibu Hamil, Ibu Menyusui, dan Baduta Non-PAUD. Kegiatan ini dilaksanakan bersama Koordinator SPPG dan Kepala SPPG Pangkahwetan 1 Kecamatan Ujungpangkah sebagai bentuk sinergi lintas sektor dalam mendukung pemenuhan gizi masyarakat.

Kegiatan ini bertujuan untuk memastikan bahwa pelaksanaan program MBG tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga tepat sasaran dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi kelompok rentan. Fokus utama kegiatan adalah memperkuat pemahaman serta implementasi program di tingkat lapangan, khususnya dalam menjangkau ibu hamil, ibu menyusui, dan anak baduta yang belum terakses layanan PAUD.

Koordinator Penyuluh KB Kecamatan Ujungpangkah dalam keterangannya menegaskan pentingnya optimalisasi program berbasis kebutuhan masyarakat.
“Program MBG 3B ini merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas kesehatan generasi sejak dini. Melalui kolaborasi ini, kami ingin memastikan bahwa kelompok prioritas benar-benar mendapatkan manfaat, sehingga upaya pencegahan stunting dapat berjalan lebih efektif,” ujarnya.

Sementara itu, narasumber dari Koordinator SPPG Ujungpangkah Moh. Zaki Alfian menyampaikan bahwa sinergi antar pihak menjadi kunci keberhasilan program.
“Optimalisasi program MBG tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kerja sama antara penyuluh, tenaga kesehatan, dan pemerintah desa agar distribusi dan pemanfaatan program benar-benar tepat sasaran. Kami juga terus mendorong edukasi kepada masyarakat agar memahami pentingnya asupan gizi yang seimbang,” jelasnya.

Kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat melalui pendekatan kolaboratif dan berkelanjutan.

Dengan semangat optimalisasi program MBG 3B, diharapkan mampu menciptakan generasi yang sehat, kuat, dan berkualitas sejak dalam kandungan hingga usia dini.